LOGO

BERITA

  • Refleksi Hari Ayah

    Refleksi Hari Ayah

    12 Nopember 2014

    Di Indonesia ini mungkin dari 365 hari dalam setahun bisa jadi setiap hari itu ada namanya. Jadi bisa kebayang betapa banyak anggaran harus dibuang percuma bila semua harus dilakukan dengan upacara atau acara seremonial lain. Hari ini 12 November sebenarnya diperingati sbg Hari Kesehatan Nasional namun secara bersamaan di dunia tanggal ini adalah Hari Ayah (Father's Day).

    Dalam kultur patriarkal seperti di Indonesia, figur ayah/bapak memang sentral terutama dalam pengambilan keputusan keluarga. Budaya ini kerapkali juga menimbulkan berbagai isu dan bahkan lahirnya berbagai perilaku, kebijakan, peraturan, tradisi, yang bias jender. Tak bisa dipungkiri juga bahwa sebagian besar pelaku kejahatan didominasi kaum pria dibandingkan perempuan. Dalam contoh yang sederhana, para koruptor yang ditangkap KPK sebagian besar tak bisa disangkal adalah kaum laki-laki yang notabene mereka adalah ayah bagi anak-anaknya dan suami dari para isterinya. Hmmmmmh....

    Apakah menjadi seorang ayah lebih enak dibandingkan dengan menjadi seorang ibu yang tampaknya lebih berat karena ada tanggung jawab reproduksi di sana mulai dari mempersiapkan kehamilan, hamil, melahirkan, menyusui dan lain sebagainya. Ini yang kemudian menjadi bahan renungan.

    Sesungguhnya menjadi seorang ayah dan menjalankan tanggung jawabnya dg baik adalah tugas berat. Disamping kita menjadi pemimpin bagi kaum wanita, menjadi ayah adalah menjadi determinan penting bagi warna generasi mendatang. Memang perlu pembuktian khusus, namun kecenderungan menunjukkan bahwa sebagian besar kasus kenakalan anak lebih disebabkan karena potret buram karakter ayah di rumah dan keluarganya. Anak lebih cepat bercermin kepada ayah daripada ibunya. Trauma psikologis anak di rumah konon lebih banyak dikontribusi oleh gaya ayah dalam mendidik di rumahnya.

    Hal kecil yang kerap dilupakan ayah (saya) ketika mengingatkan anak sholat, kemudian anak balik nanya "ayah juga udah shalat?", padahal saya sendiri belum shalat. He he he.....muka mendadak merah karena malu sendiri. Belum lagi tekanan keluarga kadang membuat ayah lupa diri sibuk mencari uang dan nafkah guna menghidupi keluarganya. Tak sedikit tergelincir pada praktik2 hitam seperti korupsi dan tindakan kriminal lainnya. Saya yakin jika mereka (ayah yg sdh terpidana korupsi) ditanya apa yang melatarbelakangi mereka melakukan tindakan tersebut, kecenderungannya menjadikan alasan keluarga sebagai motif utamanya lebih dominan dibandingkan motif lain. Bahkan data menunjukkan umur harapan hidup laki-laki di Indonesia lebih pendek dibandingkan perempuan. Prevalensi stroke (serebrovaskuler), penyakit jantung iskemik (koroner), dan diabetes secara epidemiologis lebih didominasi laki-laki (ayah) drpd perempuan (ibu).

    Ayo baik kepada ayah maupun ibu, hendaklah anak-anak berterima kasih dan menjaganya sampai akhir hayat. Sungguh menjadi ayah itu adalah amanat yang sangat berat!

BERITA LAINNYA

Indeks