LOGO

BERITA

  • Hari Kesehatan Nasional (HKN) Tahun 2014

    Hari Kesehatan Nasional (HKN) Tahun 2014

    12 Nopember 2014

    Hari ini 12 November di Indonesia dijadikan sebagai Hari Kesehatan Nasional (HKN). Tema HKN yang ke-50 ini adalah Sehat Bangsaku Sehat Negeriku. Sejauh pemahaman saya tema HKN setiap tahun selalu berganti-ganti entah apa maksudnya. Mungkin tema ini tujuannya untuk menumbuhkan spirit dan motivasi khususnya bagi para insan kesehatan (dokter, perawat, bidan, apoteker, ahli kesehatan masyarakat, nutrisionis-dietisen, analis, dan tenaga kesehatan lainnya).
    Perayaan HKN kali ini terbilang istimewa karena dilaksanakan oleh Menteri Kesehatan Kabinet Kerja yg baru dilantik yang juga beliau adalah isteri dari mantan Menkes pd era Habibie, Faried Anfasa Moeloek dan sekaligus sebagai Ketua Delegasi Indonesia dalam MDG's selama pemerintahan SBY.
    Seperti sudah dapat diprediksikan sebelumnya beberapa target MDG's Indonesia sulit untuk dicapai pada tahun 2015 nanti, seperti angka kematian ibu, angka kematian bayi, cakupan air bersih, cakupan ASI Eksklusif, termasuk beberapa target dalam pemberantasan penyakit menular seperti malaria, TBC, HIV-AIDS dan sebagainya. Walaupun sudah banyak upaya yg dilakukan selama 10 tahun pemerintahan SBY, namun dalam konteks Indonesia ternyata target2 MDG's ini sangat sulit untuk dicapai, apalagi jika masih diwarnai mental Asal Bapak Senang dalam hal penyampaian laporan dari lapangan oleh aparatur sipil negara (ASN) kesehatan dan secara berjenjang disampaikan ke atas sampai ke tingkat nasional. Wilayah geografis Indonesia yang sangat luas menjadi salah satu penyebab mengapa begitu sulit program2 pemerintah itu bisa dijalankan sebagaimana seharusnya.
    Apalagi di era Universal Coverage melalui Jaminan Kesehatan Nasional yang baru diberlakukan per 1 Januari 2014 yang lalu kini masih menyisakan banyak masalah di sisi supply dalam hal ini adalah ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan tenaga kesehatannya. Sekalipun laporan terakhir menunjukkan adanya antusiasme masyarakat Indonesia untuk beramai-ramai menjadi peserta BPJS yang konon sudah mencapai 140 juta peserta, namun di sisi lain ada beberapa pihak yang merasa dirugikan yakni para tenaga kesehatan dan pengelola RS. Memang untuk membuat formulasi yg menyenangkan semua pihak itu bukan perkara mudah, tapi saya pribadi berpendapat kini Indonesia sudah memasuki era baru dibandingkan dg era-era sebelumnya. Masyarakat mulai sadar terhadap pentingnya menjaga kesehatan dan memproteksi diri terhadap segala potensi kesakitan yang muncul di masa datang dengan membayar premi BPJS (iuran) mulai dari 25 ribu sampai 60 ribu per orang sesuai kemampuan. Tak mudah menggerakkan potensi masyarakat seperti itu.
    Tentu saja sistem JKN ini masih butuh penyempurnaan dan konon kelahiran KIS ala Jokowi ini diharapkan ada penyempurnaan. Saya yakin KIS hanya cover saja karena secara nomenklatur UU, JKN lah isinya. Karena itu lah pada KIS dicantumkan logo BPJS sebagai penegasan bahwa antara KIS dan JKN tak ada bedanya kecuali dari sisi cakupannya saja yang cakupan tersebut sebenarnya telah dicover di BPJS ketenagakerjaan.
    Para pembuat kebijakan di tingkat pusat gak mungkin gegabah dan seenaknya dalam mempertimbangkan penetapan tarif. Pasti mereka pun melibatkan para stakeholder termasuk organisasi profesi dan para pimpinan kolegium. Bagi para dokter atau nakes yang bekerja di faskes primer bisa jadi JKN ini lebih menguntungkan karena menggunakan sistem kapitasi, namun bagi mereka yang bekerja di faskes sekunder dan tersier bisa jadi ada beberapa yg merugikan.
    JKN akan menemui kegagalan manakala tak ada perubahan mindset baik nakes maupun masyarakat pengguna jasa yankes untuk lebih memprioritaskan upaya kesehatan promotif dan preventif drpd kuratif-rehabilitatif. Karena itulah tantangan nyata Menkes baru dan pemerintahan Jokowi adalah bagaimana agar APBN kesehatan bisa mencapai 5% dulu saja dan fokus penggunaannya bukan lagi untuk menopang upaya kesehatan kuratif namun lebih ke promotif-preventif. Jika ini bisa dipenuhi maka perbaikan infrastruktur faskes primer, penyediaan dan distribusi nakes yang merata dan berkeadilan dengan sistem insentif yang kompetitif (jangan hanya bisanya menempatkan dokter perawat bidan di remote area tapi jaminan kesejahteraan dan keamanan mereka kurang manusiawi, sosialisasi dokter keluarga dan praktek kolaboratif antar nakes sehingga pelayanan yang diberikan bisa holistis, perbaikan dan penyempurnaan pendidikan tinggi kesehatan dengan lebih menekankan pendekatan interprofesional education (IPE) untuk menumbuhkan semangat kerjasama dan teamwork, penerapan patient-centered care di RS dan karena itu perlu rekrutmen dokter spesialis dan perawat profesional lebih banyak di RS agar rasionya bisa ideal shg moratorium PNS harus dikecualikan untuk tenaga medis dan paramedis, pemberdayaan sarjana kesehatan masyarakat sampai ke tingkat desa dalam rangka optimalisasi pelaksanaan program promosi kesehatan dan pencegahan penyakit, dan tentu penyediaan obat yang terjangkau karena ada pengalihan subsidi dr BBM ke program kesehatan di antaranya penyediaan obat berkualitas dan alat kesehatan yang lengkap di tingkat puskesmas.
    Mungkin itu sedikit idea sharing dari saya pagi ini sambil nunggu boarding pass di Bandara Soetta. Sekali lagi selamat Hari Kesehatan Nasional "Tahun emas kesehatan untuk Indonesia Sehat"

BERITA LAINNYA

Indeks